Cerita Anak – Anak yang Jujur

0
280
Ilustrasi. (id.wikihow.com)

Momen pergantian tahun baru selalu dinantikan semua orang, termasuk Anton, Sisko, dan Sipri. Di sela-sela penantian pergantian tahun yang tinggal satu jam lagi, tiga serangkai ini duduk sambil berbincang-bincang di serambi rumah Sisko mengenai hasil capaian mereka pada Semester I setelah kemarin menerima rapor.

Anton memerhatikan Sisko yang tampak bingung. Lalu menepuk bahu Sisko.

“Ada apa, Sisko? Tumben, wajahmu nampak bingung. Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Begini, Ton. Aku heran, kok bisa-bisanya ya, nilai raporku semester ini bagus-bagus semua. Padahal aku kan malas ke sekolah bahkan enggan mengerjakan tugas dari guru-guru mata pelajaran.” ujar Sisko.

“Bagaimana nilai kamu, Ton? Tidak diragukan lagi. Pasti nilaimu lebih baik dari aku, karena aku tahu kamu rajin dan pandai lagi penurut,” lanjut Sisko sambil tersenyum.

“Aku bersyukur nilai-nilai aku baik semua dan meraih peringkat 1 di kelas. Sejak awal aku sudah bertekad rajin belajar supaya bisa membanggakan orang tua dan guru-guru di sekolah,” jawab Anton.

Sisko bangga dengan Anton, namun dia masih sangsi dan merasa tidak puas dengan nilai yang diperolehnya sebab tidak sebanding dengan kenyataannya. Kata-kata Sisko membuat Sipri tercengang.

“Sisko, kamu pasti sudah memberikan banyak telur ayam kepada guru-guru ya, supaya bisa mendapat nilai bagus. Ayah kamu kan punya usaha ternak ayam. Betul kan?” tanya Sipri sambil tertawa kecil.

“Ssssstttt… Jangan keras-keras, nanti ayahku dengar. Memang benar katamu, Ayahku peternak ayam petelur. Tapi… aku… aku… aku tidak punya pikiran licik seperti seperti itu untuk membeli nilai pada guru-guru kita. Hanya saja aku juga bingung dan bertanya-tanya, kenapa guru-guru bisa memberi aku nilai bagus. Kalian kan tahu sendiri bagaimana keadaanku ini?” ujar Sisko.

“Sipri, kamu tidak boleh berkata seperti itu sama Sisko, buktinya dia tidak puas dengan nilai yang didapatnya karena menurutnya tidak sesuai dengan kenyatan,” timpal Anton.

“Lalu maunya kamu apa, Sisko? Seharusnya kamu senang karena bisa memiliki nilai bagus,” Sipri menyahut.

“Aku hanya ingin mendapat nilai bagus jika itu benar-benar hasil usahaku sendiri. Kamu masih ingat kan, apa yang dikatakan Ibu Blandina, guru PKn kita bahwa untuk mendapat nilai bagus harus rajin belajar sungguh sebagai cerminan profil Pelajar Pancasila. Guru agama kita Pak Mustapa juga selalu ingatkan untuk menggunakan hati nurani, menjauhi perbuatan-perbuatan tercela. Hati saya tidak tenteram,” ujar Sisko yang menyadari bahwa sosok guru di sekolahnya memberikan keteladanan postif padanya.

“Makasih ya, Ton, Pri, sudah menjadi sahabat yang terbaik untukku dan selalu memotivasi aku dalam situasi apapun,” sambungnya.

“Sama-sama, Sisko. Kita kan sahabat, sudah mestinya saling mengingatkan satu sama lain,” Anton dan Sipri kompak menjawab.

Sembari berpikir sejenak, Sisko mengatakan kepada dua sahabatnya bahwa dia akan menemui wali kelas untuk menanyakan soal nilai yang dia peroleh. Ia tidak ingin dinilai buruk dan menjadi bahan guncingan teman kelas dan tidak ingin ada kesalahpahaman teman-temannya terhadap guru-guru dan wali kelasnya. Anton dan Sipri setuju dan salut dengan niat baiknya.

Detik-detik pergantian tahun baru pun tiba. Anton, Sisko, dan Sipri berpegang tangan lalu menutup mata dan berdoa, dipimpin Sisko.

“Tuhan, rawatlah persahabatan kami, bimbinglah bapak ibu guru dengan kecerahan budi dan kebijaksanaan-Mu, sertai kami para siswa yang sedang bertumbuh dengan mekar di tahun yang baru ini. Kami percaya, masa depan sungguh ada di tangan-Mu, maka kami berharap pada-Mu.”

“Amin,” ujar ketiga sahabat itu menutup doa mereka.

Setelah membuka mata yang bening dan binar-binar, ketiganya mengarahkan pandangan ke arah timur langit menyaksikan gemuruh kembang api memantulkan corak warna yang indah seperti ikatan persahabatan yang terjalin di antara mereka. Meski sering terjadi perdebatan namun mereka tetap akur dan saling menyayangi. (*)  

Penulis: Erliana M. N. Tjiputra, S.Pd. – Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMK Negeri 7 Kupang

Editor: Robertus Fahik/ rf-red-st

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini