“Katakan siapa nama teman-temanmu, maka aku akan katakan siapa dirimu.” Tentang dirimu, ada yang mengatakan bahwa engkau adalah Salam Tiga Jari Kiri, engkau adalah Mars, engkau manusia Y. Ada pula yang mengatakan salah satu Fasilitator yang sekarang, atau engkau adalah salah satu Fasilitator yang akan datang.
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Engkau adalah YASPENSI: Divisi Kepustakaan-Seni-Riset dan Teknologi, yang hidup dan bekerja segiat-giatnya bagi NKRI secara bermartabat di jalan ramai literasi nusantara. Pada jalan yang tak sepi itu, Dikau dikenal sebagai pekerja sunyi, pekerja hening, pekerja dalam tanah, pekerja kontemplatif, dalam syair: “O, kesunyian yang membahagiakan.” Dalam sunyimu engkau berbahagia sebab temukan namamu Nomen est Omen: Patris, salam 3 jari kiri Y, Mars. Itulah adanya namamu.
Salammu bukanlah aksara L = literasi, tetapi Y, tiga jari kiri malah. Tiga pendiri bergolak dalam waktu; peleburan tiga karakter, jiwa dan kehidupan; tiga yang tak terbagi; three in one, tiga dalam keutamaan: iman, harapan dan cinta. Satu Tim dalam tiga diri devisi untuk melawan kuasa absolut kepemimpinan; tiga pendiri satu tahun usiamu. Cara Tigamu mengada dalam tiga divisi sebagai tiga pengungkapan satu pesan: Kebenaran. Pada tiga divisimu, kami diserakkan, ditugasi, dan bila kami berkumpul penyebutan bukan per-divisi tetapi Yaspensi.
Aksara bernama Y, bukanlah inisial nama Yosi Sangario atau Yonson Emanuel. Mungkin itu simbol nama nabi Yusuf atau rasul Yohanes, atau salah satu nama nabi dan rasul yang disamarkan. Mungkin juga inisial nama orang kudus, Yuli atau Yuventus yang berarti berjiwa muda, segar, mekar progresif, dan atau berjiwa martir seperti Yustinus. Aksara nama dari pribadi yang lain katakan bahwa Y = YANG, sebagai sebuah harapan dan doa: Yang tertinggi, Yang tercepat, Yang terbaik, Yang terkuat, Yang rendah hati, Yang berkurban, Yang membungkus dalam rasa, Yang diam tak berontak, Yang berseni dan berkesenian, Yang sadar, Yang bersosialisasi dalam empati. Dan Y itu… apa jawabmu teman?
Huruf Y, sebagai huruf kedua dari akhir dalam sistem alfabet kita, merujuk pada bentukmu yang hampir final, selalu terarah pada sempurna tujuan terakhirmu, on going formation. Bila Huruf Y satu langkah maju pada deret abjad menuju huruf Z sebagai Tim 3 divisi maka semuanya final, selesailah sudah, tak ada diskusi dan komentar, yang ada hanyalah persetujuan, mengiyakan. Bila aksi Y bergerak pasti dalam ketidakpastian heroik yang mengandung kapasitas, kapabilitas, dan kredibilitas dalam totalitas, maka kami sepakati, setujui, dan tepuk salut buatmu.
YASPENSI sebagaimana nama yang dilukiskan oleh keterwakilan 3 jari kiri membentuk huruf Y pada bagian tubuh kiri yang hidup, pada raga organisasi, menyatakan bahwa otak seni, karakter, kasih, dan sastra mesti diprioritaskan dalam pastoral pendidikan yang sering diabaikan pegiat literasi numerasi, pemerhati pendidikan kita. Bagian tubuh kiri kontraskan bagian tubuh kanan dalam raga, sebagai yang bergiat, roh yang bernyala-nyala, jiwa yang teduh pada diri yang mengada dalam gerak diam, tanda diam, notasi dan bunyi, nada dan suara, gerak dan tari, diragakan di panggung dan di ruang rasa, pada ruang rindu, pada spasi diskutif, aksi dan donasi demi keabadian. Pengaktualan lainnya pada barisan kata-kata yang menari bak balerina di atas kertas elektronik dan pada buku cetak, juga diksi imajinatif realis yang diresonansi di antara para pemikir dan penulis buku kreatif dalam dialog seni merawat kehidupan sebagai homo ludens, homo teatrikus, dan homo sapiens.
Manusia bijaksana adalah dia yang sadar bahwa dia tidak tahu apa-apa, karena itu mau belajar dari para bijaksana terutama dari kembarannya sendiri yang kita kenal sebagai Abba Tresno, bapa yang mengasihi, bapa yang mencintai, anak kesayangan bapa, bapa pemelihara di masa depan. Demikian nama Patris. Bapa yang maskulinum sekaligus feminim, pekerja sekaligus pelayan, penulis sekaligus pewarta, Maria sekaligus Marta, guru dan dosen, pegiat dan relawan, mantan siswa dan mantan guru, orang tua dan anak, keluarga kecil kita di sini.
Nama Patris, menjadi Patris yang sekarang oleh karena seni perjumpaan dengan YASPENSI, KSK, dan Sekolah Timur. Patris menjadi Patris pada wajah tak berdosa Nong, wajah sangar Sangario, wajah gembira Gabriel, wajah lembut Ayu, wajah perjuangan Lani dan wajah kontemplasi Suster Lensi, dan wajah lainnya yang hadir di sini dan di sana dan di semua waktu dan tempat yang terkunjungi. YASPENSI ada dan hadir karena ada bapa founder: Bapa Elro, Bapa Robi dan Bapa Rian yang sukanya dipanggil kakak saja. Adanya Yaspensi juga karena adanya keterlibatan kita semua. Hadirnya para cilik penerus, si cantik Cia, cerdas Gibran, ceria Patra, dan penggembira Sanjuan, dan menyusul seusia dan seangkatan mereka penerus kita, sebagai rambu pergerakan kita kedepannya. Juga ada, karena dukungan dari om-om yang tak mau digelari Om, di antaranya om Lenzo, om Ino, om Novel, om Yandri dan tante Atik, serta adik-adik kami di tiga divisi, hai besti.
Jalanmu gesit, seperti pejalan pagi, yang baru akan beraktivitas setelah menimba kekuatan pikirannya dalam refleksi catatan sunyi dan doa berkanjang. Hasil dari jalan pagi, kemudian menepi dan menyepi pada catatan sunyi, dilanjuti jalan malam. Semuanya tercatat, disuarakan dalam kelas dan luar kelas, dinyanyikan secara online pun offline, dan diarsipkan filenya pada pusat database organisatoris dalam syukuran 1 tahun ini pada kata PATRIS: Pada Anda Teman Rohku Ingin Sharing di ‘sekolah-sekolah’ yang disinggahi dan di Sekolah Timur.
Aku mau sharing bahwa angka 1 itu tunggal, utama, utuh, ideal, awali, sulung, sama sevisi-semisi-seYaspensi. Satu sewaktu perencanaan, satu dalam aksi, dan satu simpulan saat evaluasi. Mulai dari satu niatan suci, tiga sejoli-seserver, bertemu di cafe Cokelat Liliba Penfui menjadi satu dalam ada dan tiada, berkembang biak berlaksa-laksa hingga di tahun tak terhingga.
Ketiganya butuh kita, orang-orang hebat masa kini, dan butuh mereka yang akan menjadi kita untuk bertindak sebagai marketing Yaspensi kita pada semua teralamat hingga pada akhrnya hasil marketing kita berbuah di masa depan bernama SMK Seni Yaspensi, sebagai rumah kehidupan bagi kita semua. Apabila suatu waktu para pegiat Yaspensi ada yang bekerja di dalam rumah itu baik, dan ada yang bekerja di luar rumah-menjadi duta-duta Yaspensi dan kembalinya berbagi di rumah, itu jauh lebih baik. Dan bila esok ada yang keluar dari rumah Yaspensi untuk masuk kembali bergiat, itu luarbiasa. Tetapi kalau ada yang keluar untuk keluar dan tak kembali ke Yaspensi, itu pilihan bebasnya bermisi membawa nama, jiwa, dan simbol-simbol Yaspensi dengan cara beradanya yang khas.
Sebelum masuk rumah kehidupan di masa depan itu, kita masih di sini dan aku mau bertanya: “Tetapi kata orang yang memakai jasa pelayananku, siapakah Aku ini?” Engkau adalah kami, engkau adalah aku yang kini, aku yang sekarang berkarya, aku yang sementara di tangga sukses bergiat, dan aku yang bahagia di masa depan. Ada juga dari mereka yang mengatakan bahwa Engkau adalah sebuah nama dari para sahabat pekarya karitatif dalam cinta yang dipastoralkan di sekolah komunitas millenial yang selalu disyukuri dalam doa kepada Sang Hening di satu tahunmu, seabad bersyair bersama Chairil Anwar hari ini 26 Juli, dan seharian sepanjang segala abad bersyukur.
Syukurmu, syukurku, syukur kita, adalah terima kasih kuadrat kepada Tuhan Raja Semesta Alam, menghormati para bijak suci orang kudus yang namanya kita pakai, meminta perlindungan para malaikat, mengingat para leluhur penjaga, berdamai dengan alam semesta, dan permisi pada meubeler, pondok, bunga, kopi, lampu dan lainya yang digunakan sebagi sarana untuk bersyukur pada Wujud Tertinggi aneka penamaan.
Kita juga bersyukur, mungkin saja nama Yaspensi, namaku dan namamu tidak mengalami metamorfosis seperti nama Abram menjadi Abraham atau Saulus menjadi Paulus. Nama kita hanya mengalami dialog kehidupan: tesis-antitesis-dan sintesis dalam perjumpaan seni literasi dengan bapa-bapa rohani, dengan bapa-bapa di lingkungan pendidikan, para bapa pegiat literasi dan komunitas pendidikan, serta dengan para bapa dan ibu di instansi mitra. Mereka telah menyatakannya, dan kata mereka benar, mirip mars dan visimu bahwa engkau adalah Yaspensi.
“Yaspensi, engkaulah putera dan puteriku terkasih. Kalian para bapa dan mitra dengarkanlah dia, dan padanya aku berkenan sebumi seakhirat”.
Padamu Yaspensi ada nomen est omen, nama yang indah sahabat setia, cinta yang unggul, komunitas berbagi yang solid, dan doa syukur yang hening. YASPENSI adalah Bapa yang mengasihi, bapa yang mencintai, bapa bagi semua. Demikianlah refleksi nomen est omen, namadan jiwa kepemimpinanmu, YASPENSI-ku. Amin. (*)