Kodrat utama seorang budayawan ialah berpikir kreatif-analitis. Ia memiliki pandangan kritis terhadap fenomena yang dihadapi. Jiwanya selalu gelisah untuk menemukan rasionalitas sebuah persoalan. Penyair nasional asal Makassar, Husni Djamaluddin, menilai bahwa gelisah pada diri budayawan adalah “geli” yang “sah”.
Sebagai kodrat, resonansi ilahiah itu mengekspos gerakan sukma budayawan untuk melahirkan kreativitas berpikir dalam bentuk kritik sosial. Maka di setiap momen yang tepat, kita sering mengonsumsi pemikiran kritis budayawan, baik tulisan maupun dalam bentuk orasi di forum-forum diskusi.
Pramoedya Ananta Toer, pengarang novel Bumi Manusia, menilai bahwa budayawan adalah penjaga hati nurani bangsanya. Pernyataan ini tepat. Antitesis pandangan Husni dan Pram tersebut mengisyaratkan bahwa budayawan tidak boleh diam. Hati nurani bangsa akan selamat apabila budayawan terus gelisah menjaganya. Cara menjaga hati nurani bangsa ialah dengan memelihara budayawan. Negara tidak boleh membiarkan para budayawan hidup lemah tak bergizi.
Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sudah sepatutnya menjadi rumah yang sehat dan aman bagi para budayawan. Kebijakan birokrasi, di semua level pemerintahan, wajib menjamin tumbuhnya kreatifitas berpikir dan mencipta, serta memperbaiki tingkat kesejahteraan ekonomi budayawan di negeri ini. Boleh jadi muncul pertanyaan:
“Mengapa negeri ini
Serasa ngeri
Bagi bangsa sendiri?”
Mungkin bisa dijawab:
“Hati nurani bangsa ini
Seakan terbantai
Budayawan kekurangan gizi
Dari negerinya sendiri”.
Kodrat “geli” yang “sah” (baca: kegelisahan manusiawi) harus tumbuh seiring dinamika kecerdasan dalam diri budayawan. Artinya, perform seorang budayawan yang cerdas tidak boleh pasif menjadi penonton berbagai ragam ketimpangan. Budayawan yang memahami etika kemanusiaan “haram” diam di zona nyaman, sementara derita sosial merebak di sekitarnya. Ia wajib bicara, mengklaim atau melakukan protes terhadap berbagai ketimpangan sosial yang terjadi.
Tuhan telah membekali budayawan dengan tiga perangkat kecerdasan, yakni: kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Perangkat kerohanian ini wajib berfungsi berdasarkan kodrat kegelisahan dirinya untuk melawan segala bentuk penyelewengan. Baik penyelewengan institusional (penyalahgunaan wewenang), penyelewengan konstitusional (pelanggaran aturan hukum), maupun penyelewengan etika sosial (peleccehan nilai-nilai kemanusiaan). Di posisi inilah power kecerdasan budayawan dituntut. Mereka harus tampilkan “geli” yang “sah”-nya: tulis dan bicara.
Chairil Anwar, penyair Angkatan 45 berkata: “Seni adalah gerakan sukma”. Karena itu: “Tatap dan penamu asah”. (*)
————-
Mahrus Andis adalah nama samaran (nama pena) dari Drs. Andi Mahrus Syarief. Ia lahir di Ponre Kabupaten Bulukumba pada 20 September 1958. Menyelesaikan SMA di tanah kelahirannya, Bulukumba, kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra-Kebudayaan UNHAS dan selesai tahun 1984. Setahun ia menjadi asisten dosen kemudian memutuskan untuk kembali ke mengabdi ke kampung halamannya sebagai pamong. Semasa kuliah ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Kiprahnya di dunia kesenian dimulai pada tahun 1977, mangkal di Dewan Kesenian Makassar hingga 1986. Ia menulis semua genre sastra: puisi, cerpen, naskah drama, esei dan artikel sastra budaya. Karya puisinya telah dibukukan dalam berbagai antologi bersama dengan penyair-penyair Sulsel lainnya. Aktivitas lainnya ia pernah mengasuh acara budaya di TVRI Stasiun Ujung Pandang dan Serambi Budaya di RRI Nusantara IV Makassar (1982-1984) Sejak 1986 Mahrus menjadi Pamong di Pemda Bulukumba. Berbagai jabatan pernah dipikulnya, mulai dari Kepala Bagian Organisasi, Kepala Bagian Hukum, Camat Ujung Bulu, Anggota DPRD, Kasubdin Sosial pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Linmas.
Lebih dari semua itu ia juga cukup dikenal sebagai Mubaliq kondang di daerahnya. Meski sangat sibuk Mahrus masih terus menulis puisi. Buku kumpulan puisi tunggalnya yang sudah terbit berjudul: “Bulukumbaku Gelombang Berzikir” (Dewan Kesenian Bulukumba, 2001). (Sumber biodata: https://dunia-kampus-sanggar-seni-panrita.blogspot.com/2012/12/biografi-mahrus-andis.html)