Menjadi guru pada pelajaran apa saja, tentu ada ceritanya masing-masing, terutama berkaitan dengan perilaku peserta didik dalam seluruh proses pembelajaran dan pergaulan di lingkungan sekolah. Fenomena umum yang terjadi bahwa ada peserta didik yang tidak terlalu peduli dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Akibatnya, datang terlambat, yang datang tanpa membawa perlengkapan tulis-menulis, peserta didik tidak masuk kelas walaupun ada di lingkungan sekolah, dan membuat keributan di lingkungan sekolah. Gejala serupa ini terjadi hampir di setiap sekolah.
Fenomena akan ditanggapi secara berbeda oleh para guru yang mengajar mereka. Entah apa yang mau ditanggapi oleh setiap guru yang pernah mengalami hal tersebut, bukanlah menjadi fokus dalam refleksi ini. Sebab hal itu sangat tergantung pada karakter dan pemahaman guru itu sendiri yang sifatnya sangat personal dan momental. Karena itu, yang mau ditampilkan pada refleksi ini adalah reaksi pribadi saya sebagai seorang guru Mata Pelajaran Agama Katolik terhadap berbagai fenomena janggal yang ditampilkan oleh para peserta didik di sekolah.
Pola Pendekatan
Saya coba melihat fenomenanya dari fungsi saya sebagai seorang guru. Pada prinsip ada beberapa fungsi yang sangat melekat erat dengan diri seorang guru, yaitu sebagai sumber belajar, pendidik, korektor, insiator, pembentuk generasi, pemberi teladan dan pendisiplin. Karena itu, saya hanya merefleksikan tentang fungsi sebagai pembentuk generasi dalam kaitan dengan fenomena janggal yang telah diuraikan.
Sebagai Pembentuk Generasi, berarti gurulah yang membentuk dan memberi karakter kepada generasi tersebut. Karakter di sini dipahami sebagai watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian dan akhlak. Secara terminologi istilah karakter dipahami sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor kehidupannya sendiri (Agus Zainul Fitri, 2012, 20-21). Dipahami bahwa karakter berarti mengukir hingga membentuk pola perilaku tertentu dan hanya bisa diraih melalui suatu proses yang panjang yaitu proses Pendidikan itu sendiri. Dalam proses inilah dibutuhkan kehadiran seorang guru yang bisa memberikan pola tertentu terhadap perilaku para peserta didik.
Perjalanan profesi seorang guru pasti dipenuhi pengorbanan, dedikasi, dan upaya tak kenal lelah demi mendidik dan menginspirasi. Pengorbanan ini tidak sekadar menghabiskan waktu di kelas atau dalam menyusun materi pembelajaran, tetapi terutama berusaha memahami setiap siswa secara individu, menyesuaikan pendekatan belajar-mengajar sesuai kebutuhan, bakat, dan kemampuan setiap anak terutama mereka yang sering menunjukan prilaku janggal tersebut.
Guru tak jarang mengorbankan waktu pribadi untuk menghadirkan inovasi, menciptakan metode pembelajaran yang menarik, serta menemukan cara untuk memotivasi siswa agar terus belajar. Ia tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga teladan bagi para peserta didik dengan menampilkan karakter mulia seperti kesabaran, keteladanan, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.
Sikap positifnya ini diharapkan dapat menginspirasi dan membimbing peserta didik untuk tidak hanya menjadi pintar secara akademis, tetapi juga memiliki integritas yang tinggi, kedisiplinan, tanggungjawab serta berbagai sikap positif lainnya. Dengan demikian, guru bukan hanya pembimbing di kelas, tetapi juga figur penting yang membantu para peserta didik memahami nilai-nilai kehidupan. Dengan pendekatan yang baik, guru mendorong peserta didik menumbuhkan sikap empati, kerjasama, serta kepedulian terhadap diri, sesama dan lingkungan sekitar.
Sebagai pembentuk generasi penerus bangsa, tanggung jawab guru terhadap para peserta didik sangat besar. Mereka tidak hanya menyiapkan para peserta didik menjadi sarjana yang cemerlang, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab, berintegritas, dan berjiwa besar. Kesuksesan para peserta didik tidaklah semata-mata pencapaian pribadi, tetapi juga cermin dari keberhasilan seorang guru dalam membimbing dan menginspirasi. Karena itu, dalam mengembankan tugas mendidik, guru tak pernah berhenti belajar dan berkembang. Ia terus memperbarui pengetahuan, menghadapi tantangan baru, dan mencari cara terbaik untuk membantu para peserta didik meraih hari depan lebih baik.
Dengan segala pengorbanan, dedikasi, serta karakter mulia yang ditunjukkan, guru menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang pantas dihormati dan diapresiasi seluruh masyarakat. Keberadaannya menjadi pondasi kokoh membangun masa depan cerah bagi bangsa. Namun, persoalan yang muncul adalah bahwa pengorbanan, dedikasi, serta karakter mulia yang ditunjukkan guru terkadang tidak dihargai oleh para peserta didik. Buktinya, perlakuan serupa terus saja terjadi di antara peserta didik. Apakah memang guru tidak lagi memiliki kerelaan untuk berkorban, tidak lagi berdedikasi dan tidak lagi berkarakter mulia? Dan sederetan pertanyaan lain yang serupa, setidaknya menghantar guru itu sendiri pada suatu sikpa pasrah, menyesal, kecewa dan putus asa.
Kesaksian
Ada kisah yang telah mengajarkan saya untuk tidak sekadar memahami fenomena sikap atau perilaku yang tampak tetapi harus menjadi bagian dari cerita kehidupan peserta didik itu sendiri.
Saya punya peserta didik yang menjadi dalang berbagai keributan dan persoalan di sekolah. Siswa tersebut sering tergabung dalam gerombolan peserta didik yang membuat keonaran, hanya berkeliaran di lingkungan sekolah dan bahkan ikut terlibat dalam perkelahian di sekolah. Ketika ditanyakan berkaitan dengan prilakunya itu, ia menjawab bahwa dirinya hanya sekedar membantu teman yang mendapat perlakuan yang tidak adil dari teman yang lain. Betapapun benar alasan dari peserta didik tersebut, saya beranggapan bahwa memang peserta didik tersebut tidak baik. Saya berpikir negatif tentang dia bahkan ada sikap untuk menjauhkan diri darinya.
Suatu hari motor saya rusak di halaman sekolah. Tangki motor saya bocor. Datanglah peserta didik yang persis tidak saya suka tadi. Anaknya sungguh memahami tentang motor dan tahu di mana motor bisa diperbaiki dan dilas. Ia menawarkan jasa baiknya untuk membantu saya memperbaiki motor tersebut dan menghantar ke tukang las. Awalnya saya tidak peduli dengan tawarannya, karena pikiran saya terkungkung dalam konsep bahwa anak tersebut tergolong anak tidak baik karena sering membuat keonaran di sekolah. Tetapi karena mempunyai niat yang tulus untuk membantu saya, iapun memaksakan diri untuk tetap membantu saya, walaupun saya tidak menunjukkan respon positif. Ia membantu saya hingga motor saya baik kembali ia bahkan menghabiskan waktunya selama sehari penuh untuk memperbaiki motor saya.
Selama momen perbaikan motor itulah, melalui berbagai pembincangan yang terjadi, kami berdua menjadi teman yang baik. Ia menceritakan banyak kepada saya tentang perkembangan diri dan keluarganya serta hal-hal lain yang mempengaruhi hidupnya. Situasi tersebut menyadarkan saya bahwa ternyata pola pendekatan saya selama ini, tidak mampu membantu saya untuk memahami para peserta didik. Menampilkan diri sebagai seorang sehabat bagi para peserta didik menjadi suatu cara yang ampuh untuk membentuk karakter anak. Hal inilah yang menyadarkan saya juga bahwa memang benar kehadiran seorang sahabat selalu mendatangkan keakraban, keceriaan dan ketenangan.
Hanya dengan seorang sahabat seseorang bisa duduk dengan tenang dan bisa terlarut dalam pembincangan. Tetapi selama sahabat belum hadir dalam dirinya, pasti saja ada usaha mencari sahabat yang diharapkan. Karena itu saya berpikir bahwa kalau saya mampu melakukan pola pendekatan seperti ini, bukan tidak mungkin berbagai perilaku janggal tadi bisa diminimalisir.
Kesimpulan dan Harapan
Saya menyimpulkan bahwa apa yang kelihatan secara kasat mata dari perilaku peserta didik belum tentu mencerminkan karakter anak tersebut. Sebab sewaktu-waktu, perilaku dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tertentu saja. Karena itu, guru seyogianya tidak terpengaruh dengan sikap apapun dari peserta didik, sebab pada prinsipnya gurulah yang memberikan mereka karakter. Gurulah yang memberi bentuk kepada generasi bangsa ini. Karena itu, munculah secuil harapan bagi guru, untuk tidak sekadar menghantar para peserta didik menjadi pintar secara akademik tetapi yang terpenting adalah memberikan mereka pola perilaku tertentu, yang dengannya mereka menjadi generasi yang bisa membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik. (Editor: Patrisius Leu, S.Fil./rf-red-st)
—————————–
Syprianus Selamu, S. Fil., adalah Guru Agama Katolik pada SMA Negeri 1 Kupang. menamatkan pendidikan di SDI Tondong Raja – Manggarai Barat, SMP Dian Padang Lando – Manggarai Barat, SMA Katolik Santu Klaus – Kuwu – Ruteng, Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Instituto de Formación Teológica Intercongregacional de México (IFTIM) – Mexico City